Damai hujan di luar,
di dalam kilang batu, berapi kota
betapa aman mendengar kebisingan lagu rayuan bergema
nyanyian rancangan cinta,
tapi keputusan telah dibuat mahkamah bertugu tunggul
dan hakim-hakim berkepala palsu
telah menjatuhkan hukuman
semanis diabetes,
sesedap kanser,
sekotor pertolongan,
sekejam persahabatan,
sesuci pengkhianatan,
ah sebegitu mulianya manusia,
untuk apa bersumpah setia
lalakkan saja gelak dan ketawalah selaknatnya,
yang meleleh tetap juga air mata
dan liur berbuih di laut janji.
Apa kau masih lagi punya rancangan itu?
Meski hujan telahpun berhenti,
dan kilang batu terkaku serta kota kembali sunyi,
api yang marak telah reda
membakar
tanpa kata - tanpa tindak - tanpa suara
seperti biasa, tanpa bising bergema merayu,
hanya tunggul tugu-tugu mencanak tak berkepala,
mendongak ke gelap langit, awanan asap berkepul-kepul
di bawahnya lahar bergerak dan merebak
bara-bara yang tersisa,
akan selalu siap untuk menyala!
ini puisi rahmat haron.. hehe...
baca2x lh yach!
Tuesday, October 12, 2010
Magik masih belum padam
Posted by LinnaNanada at 1:04 AM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment